Selasa, 20 Mei 2008

Yes, I Agree!!!

بسم الله الرحمن الرحيم
Assalamualaikum...

“Saya setuju bahwa harga BBM harus naik”

Yup, setidaknya dari begitu banyak informasi dan alasan yang saya terima dan insyaAllah telah saya cerna dan pertimbangkan matang-matang, maka sampai detik ini saya masih setuju bahwa harga BBM harus naik.

Sebelum saya memberikan tanggapan mengenai alasan saya menyetujui kenaikan harga BBM, ada baiknya kita tinggalkan sejenak sisi humanis dan perasaan kita terlebih dahulu. Karena dalam hal ini saya akan berbicara 100% dalam tatanan logika dan rasio. Sebenarnya, bukannya saya mengajak untuk tidak menggunakan hati nurani, tapi saya hanya takut kalau kita terjebak dalam perdebatan yang tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Jadi please sekali lagi, hal ini membutuhkan pandangan yang Das Sein atau apa yang memang sebenarnya terjadi, bukan Das Sollen atau apa yang idealnya terjadi.

Oke, mengapa harga BBM harus naik??

Ada baiknya kita melihat permasalahan secara komprehensif, tidak secara parsial. Kita mulai dari melihat kondisi perekonomian dunia. Siapapun tidak dapat menafikan bahwa harga minyak dunia adalah salah satu fakta yang paling menyedot perhatian dunia saat ini. Harga minyak dunia terus melesat, atau bahkan lebih tepat disebut menggila. Kalau beberapa waktu lalu dunia panik hanya karena harga minyak dunia menyentuh rekor sampai $60/barel, maka sekarang harga $127/barel pun sudah dianggap biasa saja. Dan jangan kaget kalau dalam waktu dekat minyak akan menyentuh $200/barel. Hal ini sudah diperkirakan oleh banyak pengamat.

Sebenarnya apa yang membuat harga minyak melesat?

1. Dari sisi demand di jaman industrialis ini kebutuhan minyak terus meningkat tajam. Data terakhir yang saya tahu dunia membutuhkan minyak hampir 90 juta barel/hari dari 206 negara, dan untuk lima besar diduduki oleh Amerika, Cina, Jepang, Jerman, dan Rusia. Dan kebutuhan itu diperkirakan akan terus meningkat tajam terutama di Cina dan India yang pertumbuhan ekonominya sangat pesat. Namun, dari sisi supply, dunia hanya bisa menghasilkan minyak sekitar 80 juta barel/hari. Dari sini jelas bahwa hukum ekonomi yang sangat sederhana berlaku.

Demand > Supply = Harga naik

2. Peran dari kartel minyak OPEC yang notabenenya adalah organisasi negara pengekspor minyak yang hampir 40%. Dari OPEC sendiri tidak ada peningkatan supply yang cukup signifikan. Bahkan belum lama sekjen OPEC mengatakan bahwa supply minyak tidak akan ditambah karena khawatir akan ulah para spekulan. Akhirnya pasar terus menunggu OPEC meningkatkan supply, sedangkan OPEC tetap kekeuh. Akhirnya harga pun naik.

3. Keadaan politik negara-negara penghasil minyak dunia jelas punya peran yang penting. Contohnya Iran yang merupakan negara penghasil minyak ke-4 di dunia politiknya sedang guncang. Ada isu Iran akan diserang oleh Amerika. Belum lagi Irak yang insfrastukturnya baru saja hancur lebur diserang Amerika. Intinya keadaan negara-negara Timur Tengah sedang tidak stabil. Hal ini jelas mempengaruhi supply minyak dunia.

4. Reaksi pasar mengenai turunnya cadangan minyak di Amerika yang pasti akan mendorong kenaikan harga minyak berikutnya. Turunnya cadangan minyak juga terjadi di Eropa

5. Keadaan ekonomi di Amerika yang sedang memburuk. Setelah tragedi subprime mortgage kemarin, dollar Amerika terus melemah,, terutama terhadap Euro. Hal ini mendorong para pembeli di Amerika ramai-ramai membeli minyak karena dalam kurs dollar harga menjadi lebih murah.

6. Ulah para spekulan, terutama di Amerika. Suatu tindakan yang menurut saya sangat tidak pantas mereka lakukan di tengah keadaan perekonomian dunia yang sedang memburuk. Dengan uang yang mereka miliki, mereka bisa kapan saja membeli minyak dalam jumlah besar dan menahan atau menimbunnya terlebih dahulu sampai pasar panik karena minyak semakin langka. Dalam keadaan kritis ini, barulah mereka menjual minyak dengan bahasa yang kira-kira seperti ini, “Ayo-ayo!! Minyak langka.. ada yang mau beli minyak saya?? Tapi, harus berani bayar dengan harga tinggi!!”. Sungguh, sifat opportunis yang sangat menjengkelkan.

Lalu, apa hubungan antara naiknya harga minyak dunia dengan Indonesia? Jelas sangat berhubungan. Kalau waktu SD kita sangat dielu-elukan bahwa Indonesia sangat kaya akan minyak, sumber daya alam, dsb, tolong buang jauh-jauh pujian-pujian tersebut. Betul memang Indonesia sangat kaya akan sumber daya minyak, namun, ingat bahwa minyak yang kita miliki hanyalah minyak mentah (crude oil) yang tidak akan berarti apa-apa jika kita tidak bisa mengolahnya menjadi minyak yang siap pakai (refined). Dan inilah yang menjadi fakta di negara kita bahwa kita belum mampu mengolah minyak mentah menjadi minyak yang siap pakai (refined), atau meskipun mampu, biaya (cost) yang dibutuhkan untuk mengolahnya akan sangat mahal.

Maka secara matematis, menjual minyak mentah ke luar dan membeli minyak yang refined untuk memenuhi pasokan dalam negeri masih menjadi perhitungan yang paling menguntungkan. Implikasinya pun akan sangat jelas, kita harus membeli minyak di pasaran dunia dengan mengikuti harga yang akan terus berfluktuasi. Sebuah fakta lagi bahwa saat ini ternyata Indonesia telah menjadi net importir karena jumlah minyak yang dapat kita ekspor masih jauh lebih kecil dibanding kebutuhan dalam negeri yang harus dipenuhi. Berdasarkan informasi yang saya ketahui, minyak yang dapat kita hasilkan hanya sekitar 920 ribu barel/hari, sedangkan kebutuhannya sekitar 1,4 juta barel/hari.

Saat ini harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia masih di subisidi oleh pemerintah dengan jumlah yang terbilang sangat besar. Tahun ini saja dari sekitar Rp900 triliun dana APBN, Rp200 triliun harus kita gunakan untuk subsidi BBM. Itu pun masih menggunakan asumsi awal APBN dimana harga minyak dunia hanya $60/barel. Bayangkan, lebih dari seperlima anggaran negara harus dialokasikan untuk sesuatu yang sebenarnya hanya dinikmati oleh sebagian kecil golongan saja. Kenapa saya katakan sebagian kecil, karena ternyata para pengguna BBM hanyalah untuk orang-orang yang menggunakan kendaraan (motor, mobil, kendaraan umum) dan pelaku industri saja.

Memang, banyak rakyat yang masih menggunakan minyak tanah, dan inilah yang menjadi permasalahan. Oleh sebab itu sekarang pemerintah sedang menggalakkan program konversi dari minyak tanah ke gas. Selain karena persediaan minyak yang terus menipis, biaya untuk mengolahnya pun sangat mahal. Kemarin dosen saya mengatakan bahwa cost untuk mengolah minyak tanah sama dengan cost untuk avtur (bahan bakar pesawat terbang).

Permasalahan muncul ketika asumsi APBN kita mengenai harga minyak dunia melenceng jauh. dari yang awalnya hanya diperkirakan $60/barel, sekarang telah menembus level $127/barel. Dampak nyatanya adalah APBN kita harus menanggung jumlah subsidi yang semakin hari semakin besar. Jika hal ini terus dibiarkan maka APBN kita akan terus membengkak. Oleh sebab itu diperlukan suatu cara untuk menutup defisit APBN yang jumlahnya terbilang sangat besar. Diperlukan suatu cara agar alokasi subsidi (yang ternyata tidak dinikmati sebagian besar mayarakat) bisa dikurangi dan dapat dialihkan ke pos-pos yang sekiranya bisa lebih nyata meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Kenaikan harga BBM sebesar 30 % menurut saya merupakan solusi terbaik dalam keadaan yang sangat mendesak seperti ini. Memang terdapat beberapa solusi lain seperti penerapan pajak progresif, pembatasan penggunaan BBM melalui smart card, pemotongan anggaran di setiap departemen secara ekstrem, dll. Namun, solusi tersebut hanya membantu sedikit APBN yang sudah sangat membengkak, dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Sedangkan keadaan semakin mendesak, dan APBN harus segera diselamatkan.

Sebenarnya rencana pemerintah menaikkan BBM saat ini bisa dibilang terlambat. Seandainya saja dari awal tahun ini pemerintah sudah menaikkan BBM sekitar 5% – 10%, maka dampak yang ditimbulkan dan jumlah kenaikan pun tidak harus sebesar sekarang. Kita lagi-lagi terjebak dalam keadaan yang sama seperti tahun 2005. Oleh sebab itu kenaikan harga BBM sekarang sudah menjadi harga mati. Menunda-nunda hanya akan memperparah keadaan. Bagaimana kalau besok pagi harga minyak tiba-tiba mencapai $200/barel?

Namun, harus ada tindakan follow-up yang jelas dari pemerintah setelah kenaikan harga BBM nanti. Pembatasan penggunaan BBM melalui smart card, pemotongan anggaran setiap departemen sampai sebesar 15%, konversi minyak ke gas, menerapkan pajak progresif, program padat karya, pembangunan insfratruktur demi meningkatnya lapangan kerja, serta penyaluran program BLT plus harus benar-benar direalisasikan secara nyata. Sejauh ini saya masih melihat solusi-solusi itu sangat relevan diterapkan sebagai pengalihan dari berkurangnya subsidi BBM. Dengan berkurangnya subsidi, maka akan ada margin dana yang bisa digunakan untuk program-program tersebut demi adanya pemerataan dan meningkatnya lapangan kerja. Namun, untuk realisasinya, kita tunggu saja dari pemerintah!!

Sekarang, coba kita kembalikan sisi humanis kita. Saya, anda, dan mungkin pemerintah sadar betul bahwa sehebat dan secermat apa pun perhitungan matematisnya, sedikit banyak kenaikan harga BBM pasti akan menimbulkan inflasi yang tercermin dari melonjaknya harga-harga, meningkatkan biaya transportasi, menimbulkan gejolak sosial, dan pada akhirnya memperburuk keadaan rakyat. Itu suatu konsekuensi yang tidak bisa kita hindari. Dan itulah mungkin realita bangsa ini yang harus kita hadapi bersama-sama. Menyalahkan satu sama lain tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Jangan berpikir parsial. Jangan memaksa pemerintah untuk selalu merasakan sulitnya menjadi rakyat, toh kita juga belum pernah merasakan sulitnya menjadi pemerintah.

Jadi, butuh pemikiran dan pandangan yang lebih dewasa dan bijaksana. Saya masih yakin bahwa masa depan bangsa Indonesia cerah. Bahkan sangat cerah. Mengapa kita tidak berpikir “Saya harus menjadi ahli kimia atau perminyakan yang handal sehingga nantinya kita tidak lagi harus membeli minyak dari luar”, atau “Saya harus menjadi akuntan yang handal sehingga bisa menciptakan sistem akuntabilitas yang baik di setiap departemen sehingga pengeluaran negara benar-benar tepat”, atau menjadi apapun yang setidaknya membantu bangsa ini bangkit dari keterpurukan. Percayalah, kalau kita mau memupuk mimpi dari sekarang, semua itu tidak pernah akan semu.

Terakhir, saya tidak akan pernah menyalahkan jika banyak rakyat kecil, sopir angkot, nelayan, pedagang, atau petani yang melakukan aksi menolak kenaikan harga BBM. Saya paham hal itu, dan itu sangat wajar. Karena yang ada di benak mereka hanyalah bagaimana agar hidup tidak semakin sulit, bagaimana agar usaha bisa terus berjalan, dan segalanya berpihak pada mereka. Mereka tidak akan sampai memikirkan mengapa harga minyak dunia terus melonjak, bagaimana perhitungan matematis subsidi, atau membengkaknya APBN. Jadi sekali lagi, hal itu sangat wajar.

Tapi, please untuk mahasiswa, atau yang mengaku golongan intelektual, kalau masih saja demo di jalan dan melakukan penolakan terhadap kenaikan harga BBM tanpa alasan dan solusi yang jelas ditambah aksi-aksi anarkis, maka maaf, menurut saya hal tersebut tidak pantas dilakukan.

Sekali lagi, dengan berat hati,

“Saya setuju bahwa harga BBM harus naik”

Mengutip perkataan Pak Chatib Basri dua minggu lalu,

“Ini merupakan pilihan terbaik dari pilihan-pilihan yang terburuk”

Minggu, 18 Mei 2008

Harga BBM naik??

بسم الله الرحمن الرحيم
Assalamualaikum...
"Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) akan segera naik"

Isu itulah yang kira-kira bulan lalu saya baca dari salah satu media cetak nasional. Setelah itu, seperti tak henti-hentinya rencana kenaikan harga BBM menjadi topik paling krusial dan fenomenal untuk diangkat di hampir semua media cetak maupun elektronik baik nasional maupun lokal. Di kampus saya pun hal ini sudah menjadi common issue. Bahkan bisa dibilang hampir bosan saya mendengarnya.

Waktu pertama kali mendengarnya, saya menganggap hal itu tidak lain hanyalah bumbu pemanis belaka yang sengaja disuguhkan oleh beberapa media agar terlihat eye-catching atau menarik. Toh dalam pandangan saya (meskipun saya sadar harga minyak dunia semakin melesat) pemerintah rezim SBY-JK tidak akan berani menaikkan harga BBM. Selain karena SBY sendiri pernah mengatakan (kira-kira awal tahun 2008) bahwa harga BBM tidak akan naik, saya beranggapan bahwa waktu yang semakin dekat dengan pemilu 2009 bisa menjadi alasan pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM. Apa hubungannya dengan pemilu? Jelas sangat berhubungan. Setidaknya secara politis bagi SBY dan JK, yang isu-isunya sangat berambisi untuk mencalonkan diri menjadi orang nomor satu di pemilu nanti, menjadi sangat berbahaya jika membuat kebijakan tersebut. Bisa-bisa berdampak signifikan bagi perolehan suara mereka yang akhirnya menggagalkan ambisi untuk menjadi orang nomor satu. Singkatnya, kira-kira sampai akhir 2009 nanti, everything is gonna be alright. Harga BBM tidak akan naik.

Namun, isu kenaikan BBM kali ini tampaknya terdengar lebih serius. Saya sempat kaget karena ternyata Jusuf Kalla sendiri yang mengatakan bahwa harga BBM segera naik, dan itu serentak diberitakan oleh media. Jadi hal ini sepertinya sudah tidak pantas disebut isu. Dalam analisa dangkal saya,"Kok berani SBY-JK menaikkan harga BBM di detik-detik mendekati pemilu seperti ini". Waaah,, berarti ini serius ini serius.

Hmm,, saya mulai panik. Pikiran-pikiran picik saya pun mulai muncul. Setidaknya kalau selama ini dengan uang Rp10.000,- bisa menjalankan mesin motor saya lebih dari satu minggu, bisa-bisa nanti sebelum satu minggu tidak akan cukup. Lebih parah lagi karena dampak inflasinya, bisa-bisa uang bulanan yang dikirim orang tua saya secara riil akan berkurang. Ujung-ujungnya saya harus mengeluarkan uang lebih untuk makan di kantin FEB yang notabenenya adalah kantin (sangat) mahal, atau intensitas saya untuk makan nasi telor di Burjo harus saya kurangi. Owwwhh, tidak-tidak!! Saya yakin pasti masih banyak orang yang akan jauh lebih menderita dibanding saya.

Oke,balik lagi. Sebagai mahasiswa Ekonomi (lebih tepatnya Akuntansi), rasa ingin tahu saya pun akhirnya (terpaksa) muncul. Saya coba menelaah ke beberapa sumber baik dari koran, TV, internet, diskusi , dan forum teman-teman alumni SMAN 1 Depok 2007 yang saya anggap paling membuka mata saya. Dan akhirnya berujung pada satu kesimpulan akan pandangan saya mengenai rencana kenaikan harga BBM yang diperkirakan mencapai 30 %. Bagaimana pandangan saya mengenai rencana kenaikan harga BBM? Hal ini akan saya paparkan di postingan saya selanjutnya.

Kamis, 01 Mei 2008

Bila Mereka Jatuh Cinta

بسم الله الرحمن الرحيم
Assalamualaikum...

love

Hmmmm... Jatuh cinta (pada lawan jenis in this case) adalah suatu hal yang sangat wajar dialami setiap orang. Mereka yang duduk di bangku kuliah, sekolah atas atau bahkan yang masih di sekolah dasar (yang secara ingusnya masih meler) kerapkali terjangkit virus merah jambu ini. Biasanya cara mereka berbeda-beda dalam mengungkapkan rasa cintanya. Ada yang dipendam di dalam hati yang terdalam dalam-dalam (halaaah), ada yang menuliskan dalam sebuah puisi, ada yang langsung mengambil gitar lalu membuat lagu untuk si pujaan hati, dan ada juga yang pake cara tradisional nan konvensional untuk langsung main tembak mengungkapkan isi hatinya (kurang mutu,ah!).

Untuk masalah mengungkapkan dengan cara membuat puisi, kayanya terkadang ini jadi hal yang paling keren.Biasanya yang suka membuat puisi adalah mereka yang berjiwa puitis, romantis nan melankolis. Dan roman-romannya puisinya bakal mirip-mirip (atau dimirip-miripin) sama bahasanya Kahlil Gibran. Untuk yang itu sepertinya tidak akan menimbulkan masalah,

namun, apa jadinya kalau yang membuat puisi adalah mereka:

Bila Akuntan Jatuh Cinta

Wahai belahan jiwaku...
Debetlah cintaku di neraca hatimu
Kan ku jurnal setiap transaksi rindumu
Hingga setebal Laporan Keuanganku

Wahai kekasih hatiku...
Jadikan aku manager investasi cintamu
Kan ku hedging kasih dan sayangmu
Di setiap lembaran portofolio hatiku

Bila masa jatuh tempo tlah tiba...
Jangan kau retur kenangan indah kita
Biarlah ia bersemayam di Reksadana asmara
Berkelana di antara Aktiva dan Passiva

Wahai mutiara kalbu ku...
Hanya kau lah Master Budget hatiku
Inventory cintaku yang syahdu
General Ledger ku yang tak lekang ditelan waktu

Wahai bidadariku...
Rekonsiliasikanlah hatiku dan hatimu
Seimbangkanlah neraca saldo kita
Yang membalut laporan laba rugi kita
Dan cerahkanlah laporan arus kas kita selamanya

Jika di hari closing nanti,
Tidak ada kecocokkan saldo,
mungkin cinta kita harus dijurnal balik...


Bila Matematikawan Jatuh Cinta

Saat aku bersua dengan eksponen jiwamu,
sinus kosinus hatiku bergetar
Membelah rasa
Diagonal-diagonal ruang hatimu
bersentuhan dengan diagonal-diagonal bidang hatiku

Jika aku adalah akar-akar persamaan
x1 dan x2
maka engkaulah persamaan dengan akar-akar
2x1 dan 2x2

Aku ini binatang jalang
Dari himpunan yang kosong
Kaulah integrasi belahan jiwaku
Kaulah kodomain dari fungsi hatiku

Kemana harus kucari modulus vektor hatimu?
Dengan besaran apakah harus kunyatakan cintaku?

Kulihat variabel dimatamu
Matamu bagaikan 2 elipsoid
hidungmu bagaikan asimptot-asimptot hiperbola
kulihat grafik cosinus dimulutmu

Beribu-ribu matriks ordo 2x2 kutempuh
Bagaimana kuungkap adjoinku padamu

kujalani tiap barisan geometri yang tak hingga jumlahnya
tiap barisan aritmatika yang tak terhitung...

Akhirnya kutemui determinan matriks hatimu
Tepat saat jarum panjang dan pendek
berimpit pada pukul 10.54 6/11

Maka, Bersyukurlah...

بسم الله الرحمن الرحيم
Assalamualaikum...

Siang ini saya iseng-iseng merapikan file-file di laptop. Waktu sedang merapikan folder bernama “Semester 1”, saya kembali iseng-iseng membuka sebuah file dalam subfolder “English 1” yang berjudul “Presentation 1”. Saya ingat, ini adalah tugas presentasi mata kuliah Bahasa Inggris 1 yang diberikan Mrs. Nawang Purwanti. Waktu itu sebelum ujian akhir kami diwajibkan untuk mempresentasikan sesuatu dengan tema bebas. Presentasi teman-teman saya sangat menarik. Ada yang tentang sepak bola, wahana-wahana di Dufan, eksotisme Bali, sampai teori Merkantilisme yang sangat membingungkan.

Awalnya saya sempat kehabisan akal untuk mencari tema presentasi. Namun, lagi-lagi diawali dari ke-iseng-isengan. Saya membuka file yang pernah Bang Syafril (sekarang sedang belajar di Jepang) berikan kira-kira satu tahun yang lalu. Lalu saya edit habis-habisan dalam satu malam. Dan jadilah presentasi saya yang kira-kira kalau diberi judul adalah “Bersyukur”.

Yup,, keputusan saya untuk memilih tema itu tidak lain dan tidak bukan hanyalah untuk sekedar berbagi pada teman-teman betapa beruntungnya diri kita dengan segala yang kita miliki dalam kehidupan ini. Saya hanya ingin kita semua yakin bahwa apa yang telah Allah berikan saat ini sudah lebih dari kata “cukup”.

Oke, ini slide presentasinya. Check this out!!

Image Hosted by ImageShack.us

===================================================================

Ada yang masih ngeluh dengan kehihupannya sekarang?

Image Hosted by ImageShack.us

Mereka merasa nyaman dengan ini semua...

Image Hosted by ImageShack.us
===================================================================

Ada yang kesal kalau orang tuanya terlalu protektif?

Image Hosted by ImageShack.us

Ternyata mereka udah gak punya orang tua...

Image Hosted by ImageShack.us
===================================================================

Jenuh dengan belajar dan tugas-tugas setiap hari?

Image Hosted by ImageShack.us

Keadaan ini gak membuat mereka patah semangat...

Image Hosted by ImageShack.us

===================================================================

Ada yang gak suka sayuran atau bosan makan pizza?

Image Hosted by ImageShack.us

Mereka cuma berharap sesuap nasi untuk sekedar menyambung nyawa...

Image Hosted by ImageShack.us
===================================================================

Mau ke mall buat beli sepatu Adidas, Nike, atau Rebook?

Image Hosted by ImageShack.us

Bagi mereka ini lebih dari cukup...

Image Hosted by ImageShack.us
===================================================================

Bosan main X-Box, PS 3, atau PC game?

Image Hosted by ImageShack.us

Mereka gak punya pilihan lain...

Image Hosted by ImageShack.us

=============================================================

Jangan pernah ngeluh,guys!!

Image Hosted by ImageShack.us

Ini semua udah lebih dari cukup

Lihat deh sekitar kita!!

Image Hosted by ImageShack.us

Karena itu bersyukurlah...

Sungguh, kebahagiaan tidak akan pernah dinilai dari seberapa besar yang kita miliki, tapi dinilai dari seberapa besar kita mencintai apa yang kita miliki...

"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"

- Q.S.Ar-Rahmaan (55): 13 -


Selasa, 29 April 2008

Sisi Lain Seorang Dosen

بسم الله الرحمن الرحيم
Assalamualaikum...

Melalui judul tersebut, saya tidak akan menceritakan sosok seorang dosen dari sisi yang “aneh” atau negatifnya. Saya juga tidak akan menceritakan sosok seorang dosen dari sisi kepribadian yang dianggap sebuah privasi. Tapi, saya hanya ingin berbagi apa yang bisa saya dapatkan pada hari ini. Saya hanya ingin memberi tahu anda semua bahwa hari ini saya bisa menyimpulkan, di mata saya, dosen memiliki sisi lain yang amat menarik dan unik. Menarik bukan karena mereka mampu menghadirkan pemikiran atau wawasan kritis tentang intrik dan rumitnya ilmu pengetahuan. Unik bukan karena perawakan mereka yang bisa juga membuat kita terbahak-bahak atau mengerutkan dahi. Ini lebih kepada bagaimana mereka bisa menghadirkan suasana persahabatan bagi mahasiswanya dengan cara yang berbeda. Hal tersebut bisa saya simpulkan dari beberapa cerita berikut.

===================================================================

Jadi begini, dalam mata kuliah Akuntansi Pengantar II, saya diajar oleh seorang dosen bernama Dr. Supriyadi, M.Sc. Dalam kelas beliau tidak diperbolehkan ada suara HP yang berbunyi. Jika memang ketahuan ada seseorang yang HP-nya berbunyi, maka ia dianggap absen atau tidak menghadiri kelas. Namun pada pertemuan minggu lalu, ketika Pak Supriyadi sedang mengajar tiba-tiba Hp-nya berbunyi cukup keras. Spontan yang teringat oleh kita semua adalah peraturan mengenai HP tadi. Namun kali ini bukan HP mahasiswa, tapi milik Pak Supriyadi. Lalu masalahnya, apa ada hukuman untuk beliau? Spontan beberapa teman saya berteriak sedikit menggoda, “Hayooo, Pak, traktir,pak!! Hayooo,Pak!! Traktir,Pak!!”. Pak Supriyadi tersenyum dan tersipu malu. Lalu ia berkata dengan sedikit canda, “Oke,, minggu besok saya traktir, jadi jangan sampai ada yang gak masuk ya, nanti rugi! Besok saya traktir permen!!”. Mendengar perkataan beliau, saya dan mungkin siapa saja akan tahu bahwa perkataan tersebut hanya guyonan belaka. Namun hari ini saya benar-benar terkejut. Mba Fifi (asdos Pak Supriyadi) datang dengan membawa enam kotak besar Dunkin Donuts dan beberapa jenis minuman ringan. Kata Mba Fifi, makanan dan minuman ini semua dari Pak Supriyadi. Ini sebagai “hukuman” bagi Pak Supriyadi karena telah melanggar peraturan dalam kelas. Akhirnya, kelas hari ini pun diisi dengan makan-makan ^,,^.

Image Hosted by ImageShack.us

===================================================================

Sekitar dua minggu yang lalu, saya sit-in (masuk kelas yang bukan mata kuliah kita) dalam kelas Perekonomian Indonesia. Kelas ini diisi oleh Menteri Perekonomian Indonesia yang baru saja ditunjuk sebagai Gubernur Bank Indonesia, Prof. Dr. Boediono, Ph.D. Semester ini sebenarnya saya tidak mengambil mata kuliah Perekonomian Indonesia, namun masuk (atau menyusup?) dan mengikuti kelas Pak Boediono saya anggap sebagai nilai lebih tersendiri. Hari itu hari Sabtu. Beliau datang hanya dengan menggunakan kemeja pendek berkerah yang sangat sederhana dan mengendarai mobil sendiri. Saat masuk kelas yang memang lebih ramai dari biasanya, beliau berkata dengan senyuman khasnya, “Kok tumben ini kelasnya agak rame? Banyak yang migrasi, ya?” Kami yang berada dalam ruangan hanya tersenyum malu. Beliau pun membalasnya dengan senyuman yang sangat ‘ke-bapak-an”. Selama mengajar, saya melihat Pak Bud adalah sosok yang sangat low profile dan down to earth. Ketika di luar kelas, saya menanyakan beberapa hal tentang keadaan perekonomian periode 1968-1970, beliau menjawab dengan begitu ramah dan sungguh “ke-bapak-an”. Puncaknya, pada saat perkuliahan berakhir beliau mau berpoto bersama beberapa mahasiswanya, termasuk saya.

Image Hosted by ImageShack.us

===================================================================

Paska Ujian Tengah pada semester pertama lalu, dosen Akuntasi Pengantar I saya, Prof. Dr. Ainun Na’im, Ph.D, sempat tidak masuk kelas beberapa pertemuan. Menurut Mba Andisa (asdos Pak Ainun), beliau sedang menjadi konsultan beberapa proyek di Belanda dan Jepang. Setelah pulang ke Indonesia dan kembali mengajar, sebenarnya saya dan teman-teman sedikit kesal karena kami benar-benar tertinggal dalam materi kuliah. Tapi mau gimana lagi, secara beliau orang sibuk. Namun, ada hal yang cukup menghibur kami saat pertemuan pertama setelah beliau pulang ke Indonesia. Di tengah-tengah kelas, beliau memberikan oleh-oleh satu kotak coklat Godiva dari Belgia untuk kami sekelas. Beliau juga memberikan hadiah kepada beberapa orang yang mendapat nilai ujian tertinggi. Alhamdulillah waktu itu saya dapat topi. Bahkan, beliau juga berjanji akan menraktir makan kami sekelas jika nilai ujian akhir kami bagus-bagus (tapi belum jadi, memang jelek-jelek ya, Pak?)

===================================================================

Tadi siang, Wana Darma, teman saya di kampus, menceritakan pada saya bahwa di kelas Akuntansi Pengantar II Prof. Dr. Slamet Sugiri, Ph.D. ( Ketua Jurusan Akuntansi UGM), belum lama juga diadakan makan-makan bersama. Yang ini lebih keren mungkin, makan-makannya langsung di rumah makan padang, sepuasnya lagi (hmm..) Kata Wana, waktu itu Pak Sugiri menraktir kelasnya dikarenakan bertepatan dengan hari ulang tahun anaknya.

===================================================================

Beberapa bulan lalu juga saya menghadiri undangan open house mahasiswa Akuntansi di rumah Prof. Dr. Abdul Halim, Ph.D. Dalam acara tersebut Pak profesor terlihat begitu akrab berbincang-bincang dengan kita. Kami merasa begitu dekat. Selain membicarakan Akuntansi tentunya, beliau juga memperkenalkan istri dan anak-anaknya. Dan terakhir, makan-makan selalu menjadi acara pelengkap antara mahasiswa dengan dosen, hehehe.

===================================================================

Jujur saja, pada awalnya dalam pandangan saya (atau mungkin juga dalam pandangan anda), seorang dosen adalah sosok yang amat angkuh dan membosankan. Dengan berbagai titel kebesarannya seperti professor atau doktor, sejuta pengalaman dalam dunia pendidikan, ,perusahaan dan pemerintahan, serta usia yang memang rata-rata di atas layaknya orang tua biasa, sepertinya akan memperlebar “jarak” antara mereka dengan mahasiswa. Belum lagi sistem pembelajaran di dunia kampus yang sangat sulit menghadirkan keakraban antara dosen dan mahasiswa. Tidak seperti layaknya waktu SMA.

Namun, pandangan saya sepertinya berubah seiring dengan berjalannya waktu dalam proses pembelajaran saya sebagai mahasiswa. Meskipun tidak bisa juga dibilang berubah secara sepenuhnya, namun, beberapa hal dan kejadian di atas cukup untuk mengubah paradigma saya bahwa seorang dosen tidak se-angkuh dan se-membosankan seperti yang saya perkirakan. Mungkin sebuah quote yang bisa dibilang sangat klasik berlaku dalam hal ini:

“Don’t judge a book by its cover”

Ya, dan itulah ternyata sisi lain mereka. Sungguh, unik, dan menarik untuk saya rasakan..