بسم الله الرحمن الرحي
Sebenernya postingan kali ini mau gua publish minggu lalu, tapi berhubung ada berita yang lebih hot dan mendesak untuk di publish (Puting Beliung UGM), jadi ini tulisan terpaksa musti di postpone dulu. But never mind, here the time..!!
Last weekend adalah salah satu hal yang ngebuat gua seneng banget pernah berada di Jogja. Yup, here, when science meets culture katanya jargonnya mah. Jadi ceritanya gua di outsource (atau direkrut? Ah, biar aja outsource lah biar keliatan professional, hehe) sama temen gua, Pandu, yang bapaknya orang Deplu, untuk jadi panitia di sebuah acara yang diadakan oleh Departemen Luar Negeri Republik Indonesia. Acara ini bertajuk Indonesia Channel 2008.
Indonesia Channel itu sendiri merupakan salah satu bagian dari program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia atau Indonesian Arts and Cultures Scholarship dimana Deplu memberikan beasiswa kepada 50 orang yang berasal dari 29 negara di seluruh dunia untuk belajar berbagai kesenian dan budaya Indonesia selama tiga bulan. Pesertanya bener-bener hampir merata dari seluruh dunia, lho. Meskipun paling lengkap emang dari negara tetangga (negara-negara ASEAN dan Australia), tapi ada juga peserta yang dari USA, UK, China, Jepang, Korea, Azerbaijan, Fiji, Tonga, India, Samoa, Belanda, Solomon, Nauru, Tuvalu, New Zealand, sampe South Africa Mereka semua ditempatkan di sanggar-sanggar seni yang terdapat di empat kota; Jogja, Bali, Bandung, Solo.
Nah, acara Indonesia Channel ini merupakan malam penutupan program BSBI itu dimana mereka harus perform dan show up segala kesenian dan budaya yang telah mereka dapet dan pelajarin di Indonesia. Acaranya diadain di salah satu gedung kesenian terbesar di Jogja yaitu Taman Budaya Yogyakarta, dan dihadiri oleh Menteri Luar Negeri RI, Duta Besar dan pejabat Kedutaan, tamu undangan, dan mahasiswa di Jogja yang hampir semuanya mengambil jurusan Hubungan Internasional. Oh ya, posisi gua dalam kepanitiaan ini sebagai Usher atau penerima tamu yang mana jobdescnya adalah ya menerima dan menyambut tamu-tamu yang dateng.
Mengenai acaranya?? Very very super duper totally keren mantabs bin outstanding and great binti awesome and impressive maknyuuuuss!!! Sungguhan, sumpah mati deh sodara-sodara, keren banget ini acara. Jujur, inspite of tingkat ke-lebay-an gua yang mungkin udah masuk dalam stadium 4, mungkin ini menjadi pertunjukan paling mengesankan yang pernah gua liat seumur hidup. Ribuan penonton yang memadati Taman Budaya Yogyakarta berkali-kali dibuat terpesona oleh penampilan para bule gokil ini. Berkali-kali penonton dan undangan harus memberikan teriakan meriah bahkan standing applause atas suguhan mereka. Megahnya panggung dan kilauan efek lampu menambah solidnya acaranya ini.
Mereka layaknya seorang expert yang menampilkan berbagai macam kesenian dan budaya Indonesia asli yang gua sendiri banyak yang gak tau namanya. Dari mulai tari-tarian tradisional yang pake kolaborasi musik kaya Janger (Bali), Getuk (Jawa), sama Bangbung Ranggek (Sunda) mereka sajikan secara sempurna, meskipun cowo-cowonya banyak yang kagok, tapi malah jadi kocak abis gerakannya. Trus mereka dengan lihai dan perfecto memainkan alat music seperti Angklung Arumba, Gamelan, dan Rampak Kendang. Abis itu mereka nyanyi, keren banget, nyanyi lagu-lagu daerah termasuk Rasa Sayange (dari Maluku bukan Malaysia) dengan luar biasa merdu. Satu hal yang membuat penonton terpukau dan terkocok perutnya adalah aksi dari seorang peserta dari Kamboja (yang bilangnya ke gua merupakan finalis idol di Kamboja dan taun depan secara kontroversial mau ikut Indonesian Idol), Kong Sotearith, yang tiba-tiba menyanyikan lagu PUSPA (ST 12). Hahaha, lucu banget, meski logatnya agak maksa, tapi suaranya nice dan ekspresinya dasyat abis plus bikin lemes.
Masih banyak lagi penampilan-penampilan eksotik dan menghibur yang gak bisa gua inget satu-persatu, diantaranya ada peragaan pencak silat, tarian batik, beberapa sendratari, sampe main wayang. Selain itu para penonton juga dihibur oleh penampilan Yovie & Nuno dan Paduan Suara Mahasiswa UGM. Sekali lagi decak kagum tak henti-hentinya tercurah untuk mereka para performer. Closing performance pun dikemas sangat cantik, sebuah puisi manis untuk semua peserta yang amat merepresentasikan bahwa kita semua bersaudara meski berasal dari suku dan negara yang berbeda.
Satu kekaguman sekaligus pelajaran yang terbesit di hati gua adalah bagaimana mereka bisa bener-bener total menampilkan semua yang notabenenya bukan kesenian atau budaya asli mereka. Sungguh, mereka terlihat begitu menikmati dan mencintai budaya kita, bermain gamelan dan menari dengan semangat 45, bernyanyi dengan terus tersenyum dan tertawa, mereka bener-bener seperti mencintai Indonesia. Bahkan saat closing performance mereka semua bareng-bareng bilang "Aku Cinta Indonesia". huhu. jadi terharu. Pokok'eThey act as if they perform their own arts and cultures.Bagaimana dengan kita? Gua? Hahaha.. Boro-boro deh gua mah. Paling banter cuma bisa maen Bonang sama Gong, itu juga waktu SD, udah lupa lagi, parah deh. Jadi malu sendiri.
with Thabo from South Africa
and Thanks to Indonesia Channel 2008...
Yes, coz We are the World...
Efek nyata: gua jadi mau menelusuri lebih dalam keeksotikan dan keunikan berbagai budaya dan kesenian di Jogja. Target I: ikut les nge-batik, dateng Jogja Fair, n dateng Pesona Pangan Nusantara Jogja. ^,^












.jpg)







