Jumat, 08 Agustus 2008

Badminton I’m in Love

بسم الله الرحمن الرحيم
Assalamualaikum...

Awalnya cuma gak sengaja diajak Mas Yano (manager gua di Departemen Intelektual Himpunan Mahasiswa Akuntansi), tapi sekarang bahkan dalam satu minggu bisa 4 – 5 kali. Itu dia bulu tangkis. Dengan perpaduan antara kesukaan dan sedikit bakat, sekarang gua bisa dikatakan luar biasa jatuh hati dengan cabang olahraga sepak-menyepak bulu angsa ini.

Beneran, bagaimana bulu tangkis bisa menjadi hobi baru gua saat ini bisa dikatakan benar-benar gak sengaja. Jadi waktu itu Mas Yano mau main bulu tangkis, karena pemainnya kurang satu, entah apa yang dipikirkan beliau, tiba-tiba langsung mengajak gua. Semenjak itu gua jadi sering banget main bulu tangkis, awalnya cuma jadi follower – cuma nunggu kalo ada yang ngajak main - , tapi sekarang gua malah selalu didaulat sebagai penanggung jawab kalo mau main bulu tangkis.

Tadi gua sempet nyinggung-nyinggung masalah bakat. Hal tersebut sepertinya benar adanya kawan-kawan. Waktu SMP entah bagaimana hal tersebut bisa terjadi, gua pernah menjadi juara I turnamen bulu tangkis tingkat RW dalam rangka 17-an. Masih terngiang-ngiang dengan amat manis moment bersejarah itu. Kalo inget masa itu, rasanya gua sekarang harusnya udah di Pelatnas Cipayung bareng Taufik Hidayat dkk, tapi takdir berkata lain, sekarang gua malah kuliah jurusan Akuntansi, hehe. Tapi Akuntansi jauh lebih menyenangkan dibanding bulu tangkis, kok.

Di Jogja sendiri sangat banyak tempat main bulu tangkis. Kalo gua paling sering main di GOR Lembah UGM (Rp 10.000/jam) dan di Depok Sport Center (Rp 50.000/2 jam). Beberapa orang yang pernah bareng-bareng gua main bulu tangkis; Dani, Azmi, Mas Yano, Mas Riri, Mas Gea, BQ, Igoy, Teguh, Yuscha, Kirun, Abang, Wahyu, Aldi, Zaldi, sama Mas Ardi. Hampir semua diantara mereka jatuh hati at the first sight juga sama bulu tangkis. Mirip-mirip gua gitu. Tapi yang penting thank you guys for being my soulmate at badminton field!! Hidup Mahasiswa!!

Menurut gua, bulu tangkis itu olahraga yang unik. Pas banget buat yang mau diet. Kalo main bulu tangkis, gua merasa jarang banget capek meski udah satu atau dua jam. Tiba-tiba badan udah mandi keringat dan rasanya beribu-ribu kalori baru saja lenyap dari tubuh gua. Beda sama jogging. Sepuluh menit gua tepar (emang gak ada bakat jogging). Selain itu menurut gua mengapa bulu tangkis sangat maju di Indonesia karena banyak banget komplek perumahan atau perkampungan yang punya lapangan bulu tangkis. Jadi bulu tangkis terlihat sangat populer. Apalagi bulu tangkis punya sejarah yang sangat keren dalam mengharumkan nama Indonesia. Beda sama sepakbola. Banyak orang yang fanatik, cuman, ketersediaan lahan untuk lapangan sepakbola semakin minim. Sekarang trend anak muda lebih suka main futsal. Dan futsal pada dasarnya beda sama sepakbola.

Gua juga mau memberi saran untuk pemerintah khususnya Menpora; Kalo pemerintah mau serius menangani masalah kenakalan remaja, sex bebas, narkoba,dll, sebenernya ada cara yang cukup bagus menurut gua. Caranya dengan gencar membangun fasilitas olahraga yang cukup representatif seperti lapangan futsal, bulu tangkis, basket, sports center, dll. Kenapa? Karena menurut gua intensitas berolahraga sangat berbanding terbalik dengan kenakalan remaja. Jadi semakin giat seseorang berolahraga, semakin kecil kemungkinan dia melakukan kegiatan-kegiatan yang negatif. Pasti deh! Gua dan temen-temen ngerasain hal ini,kok!

Balik lagi ke bulu tangkis ya. FYI aja, sebagai tindak lanjut kecintaan gua sama bulu tangkis, sekarang gua udah join sekolah bulu tangkis di Jogja, namanya Depok Sport Center Badminton Club. Latihannya seminggu dua kali. Pelatihnya namanya Pak Susanto. Nah, kalo Pak Susanto biasanya didampingi anaknya Gilang sebagai asisten. Ngomong-ngomong tentang si Gilang ini, hebay euy!! Dia baru kelas tiga SD, tapi udah jadi atlet Popda (Pekan Olahraga pelajar daerah) Jogja. Padahal badannya kecil dan pendek, tapi mainnya cadas luar biasa. Gua yakin ini bocah bisa dapet medali emas olimpiade entah kapan.

Oiya, terakhir, mari kita doakan para atlet bulu tangkis kita yang akan berlaga di Olimpiade Beijing. Semoga tradisi emas masih bisa dipertahankan,deh. Buat kita semua, jangan lupa berlolahraga ya, bung!! Mumpung masih muda, kalo udah sepuh repot. Hidup Mahasiswa!!

Senin, 04 Agustus 2008

Karena Saya… Maka Gua…

بسم الله الرحمن الرحيم
Assalamualaikum...
Siang ini saya membuka dan membaca lagi beberapa postingan blog saya. Setelah dipikir-pikir dan dipertimbangkan dengan gak terlalu matang, saya merasa ada beberapa postingan (gak tau neh bahasa yang bakunya apa) yang rasa-rasanya kurang pas kalo saya menggunakan kata “saya” dalam postingan tersebut, terutama postingan yang masuk dalam kategori gak penting atau gak serius (hueekkkzzz.. emang ada yang penting dan serius??)

Maka dengan berlandaskan beberapa kepentingan dan pertimbangan “gak mau dibilang aneh” sama saudara-saudara sekalian, untuk beberapa postingan ke depan yang berbau kurang penting dan kurang serius (dibilang gak ada yang penting juga!!) saya mengubah kata “saya menjadi gua”.

Oke resmi deh..

Oiya, ngomong-ngomong tentang kata “gua”, kalo gua perhatiin di sini jarang banget orang Jogja (terutama temen-temen gua) yang berkomunikasi menggunakan kata “Gua dan Lo”. Sebenernya bukan orang Jogja aja sih yang kayak gitu, hampir semua mahasiswa dan orang – orang di sini yang notabenenya dari luar Jakarta jarang menggunakan kata gua lo. Lagi-lagi punya efek yang signifikan buat gua. Sekarang gua jadi sering banget “ber-aku-kamu”. Bahkan sama temen-temen yang dari Jakarta juga jadi ikut-ikutan ngomong aku kamu.

Seneng juga sih bisa ber-aku-kamu sama banyak orang, rasanya kaya kita masih kecil dulu kalo lagi rebutan mainan, “Ini punya aku, kamu!!” atau ‘Kamu nakal,deh!!”. Oiya, ngomong-ngomong masa kecil, akhir-akhir ini gua lagi seneng sama lagu Masa Kecilku-nya Elfa Singer yang beberapa minggu lalu dibawain sama Gisel di Spektakuler ke berapa gitu.

Balik lagi ke ber-aku-kamu. Selain sering banget ngomong aku kamu, ternyata temen-temen gua yang notabenenya bukan dari Jakarta itu masih banyak yang gak tau arti kata “Gope, Seceng, Goceng, Ceban, dll”. Sepertinya pepatah "dunia gak seluas daun kelor" gak perlu direvisi, neh. Ahahahaha…^,^

Senin, 28 Juli 2008

Kembali ke Laptop!!!

بسم الله الرحمن الرحيم
Assalamualaikum...

Weiiitzz!! Bukan-bukan!! Ini bukan mau mengupas tuntas si Tukul yang semakin hari semakin “beres” saja tingkahnya (eiyaa..eiya..), tapi ini masalah kembalinya saya ke alam blog-blog-an (silakan cari di kamus, mudah-mudahan terdefinisi maknanya).Yoi!, memang kalo dipikir-pikir sudah cukup (sangat) lama saya tidak main-main ke alam blog-blog-an lagi (heiya,, diulang lagi), sampai-sampai efek yang paling signifikannya adalah saya sampai lupa password blog saya. Kalau ada yang mau iseng-iseng menghitung (termasuk saya) dari mulai saya terakhir nge-blog yaitu tanggal 26 Mei sampai dengan hari ini 28 Juli, maka terhitung dua bulan lebih sedikit saya tidak menengok blog saya. Dengan begitu berarti saya juga otomatis tidak menengok blog teman-teman saya. Jadi, maaf-maaf saja kalau nanti saya terlihat ndeso a.k.a. ketinggalan info mengenai perkembangan termutakhir blog saudara-saudara sekalian.

Nah, kembali ke laptop!!

Jadi kira-kira apa masalahnya – yang membuat saya lama gak nge-blog? Kalau mau disederhanakan dan ditarik-tarik benang merahnya mungkin ada beberapa hal yang bisa menjadi alasan. Yang pertama, mungkin dikarenakan pada akhir-akhir bulan Mei lalu sedang panas-panasnya perhelatan Piala Eropa (???), dimana saya sendiri pun tidak mengerti mengapa hampir setiap malam saya harus begadang bareng-bareng anak kos padahal Inggris yang notabenenya adalah tim jagoan saya tidak lolos. At those moments, suasana kos-kosan sangat jauh dari kriteria kondusif. Bayangpun saja saudara-saudara (bahasanya Mas Rizal)!! Kira-kira jam 3 tengah malam, yang seharusnya hening oleh semilir angin malam dan daun berguguran, masih dihiasi dengan teriakan dan lompatan histeris para penghuni kos G8 karena Belanda yang menggilas habis Italia 3-0. Walhasil, sang ibu kos pun menghampiri kami. Suasana hening sejenak. Ibu kos pergi. Dan suasana kembali tak terkendali. Hhhuuff!!


Nah,, alasan yang kedua selain perhelatan Piala Eropa adalah salah satu hal yang mungkin dianggap paling mengerikan oleh mahasiswa di seluruh dunia (Baca: UAS). Yups, UAS. Such a horrible “UAS”, maybe!! Belum pernah saya melalui ujian-ujian paling mengkhawatirkan dalam hidup saya. Meskipun kalau dipikir-pikir saya pernah melewati EBTANAS SD, UAN SMP dan SMA dengan sukses, tapi UAS kali ini terasa sungguh desperate. Bayangpun lagi!! Dari sembilan mata kuliah di semester 2 kemarin, cuma Akuntansi Pengantar 2 yang bisa dikatakan tidak mengkhawatirkan (cukup ngelotok di kepala). Yang delapannya sungguh-sungguh “degdegserrr..” (banyak yang gak connect waktu belajar). Ini pasti gara-gara terlalu santai plus main di semester 2, atau bisa juga kebanyakan tidur di kelas, atau juga soal mata kuliah semester 2 yang gak “gua banget”. Belum lagi gangguan-gangguan dari Piala Eropa terus menghantui. Maka, sebaik-baiknya usaha adalah belajar sampai titik lapar penghabisan. Karena alternatif saya kalau sudah terdesak rasa lapar adalah makan, makan, dan makan.(ggGGgrrr..)

Yo, Balik maneng nang laptop!! Kaya kie’!! (dengan pronunciation ala Tegal pelosok!)

Jadi, karena harus belajar buat UAS,, bukannya kembali ke laptop, tapi malah gak pernah buka-buka laptop yang berarti koneksi internet juga terputus. Dan Selesailah UAS. Permasalahan belum selesai, karena masih “jedag-jedugg” juga masalah nilai-nilainya. Dan ternyata saudara-saudara, Allah memang sebaik-baiknya Penolong. Di tengah-tengah "keamburadulan” saya di semester 2 kemarin, Dia masih mengizinkan saya merasakan IP kategori cumlaude (bahasa mana ya?), yang mana kata orang-orang, kuliah saya masih terbilang “cukup beres”, lah. Alhamdulillah sangat, deh. Hhhhuuff.. Tapi bisa jadi ini peringatan dari-Nya. Kalau semester 3 saya masih santai-santai juga, bisa jadi dicabut sudah IP “cukup beres” saya.


Alasan yang ketiga adalah saya berpulang kota ke Depok. Mengingat Telkomnet Instan yang tarifnya selangit itu sudah dicabut dari rumah saya, maka saya pun juga agak-agak males pergi ke warnet. Jadilah selama di Depok saya tidak terkoneksi internet. Oiya FYI, selama di Depok kemarin saya ikut acara Formosa (Forum Silaturahim MPK-OSIS Smansa). Senang sekali bisa bertemu dengan kawan-kawan sepermainan. Senang juga bisa ketemu adek-adek yang sekarang sudah besar (ditandai dengan lulusnya mereka dari SMA, padahal rasanya belum lama di-MOPD-in). senang juga main futsal bareng lagi, dan pastinya yang membuat saya terharu adalah kembali bisa mencicipi kenikmatan masakan AW belakang. Selain itu saya dan kawan-kawan ber-13 juga nonton Kungfu Nanda, eh, Kungfu Panda di Margo City. Dan tahukah anda saudara-saudara? Kemarin Bung Nanda juga ikut, dan menurut kesaksian beliau, saat itu adalah 2nd dia nonton film di bioskop, yang mana 1st-nya terjadi saat dia duduk di kelas 2 SD. Acara lainnya hanya santai-santai di rumah, dibelai ibu bapak (lebai,ah!!), dan disuguhkan makanan enak.hehe. Sebelumnya juga main ke rumah dinas bapak di Bandung.

Balik lagi ke Jogja. Alih-alih bisa internet-an lagi, internet kos-kosan saya ternyata bermasalah. Dan Mas Andi (anaknya ibu kos) yang bisa dibilang pakarnya utak-atik komputer di kos, sedang ada proyek di Jambi. Walhasil sekitar dua minggu gak bisa connect di kamar. Mau ke warnet juga males, ya sudahlah.

Nah, kalau sekarang internet di kos jalan lagi. Lumayan menyenangkan. Jadinya bisa nge-blog lagi. Sekarang saya juga gak jadi Semester Pendek. Mata kuliah Manajemen saya drop dari SP. Soalnya nilai Manajemen saya Alhamdulillah cukup memuaskan (kata Jaesa, memuaskan lebih asik diucapkan ketimbang saya sebut dapet nilai A)..hehe.

Sambil liburan dan menjalani beberapa kegiatan di kampus, ternyata saya telah menemukan satu olahraga yang paling menyenangkan untuk saya mainkan, bahkan melebihi sepakbola. Oh sungguh saya jatuh cinta dengannya. Bahkan tergila-gila. Mungkin tak ada lagi “kembali ke laptop” setelah ini. Karena setelah paragraf ini saya akan kembali ke lapangan untuk memainkan si bulu angsa. Ya, BULU TANGKIS!!!


Senin, 26 Mei 2008

Bangkit - oleh Deddy Mizwar

بسم الله الرحمن الرحيم

Bangkit itu...Susah

Susah melihat orang lain susah
Senang melihat orang lain senang

Bangkit itu...Takut

Takut untuk Korupsi
Takut untuk makan yang bukan haknya

Bangkit itu...Malu

Malu menjadi benalu
Malu minta melulu

Bangkit itu...Marah

Marah bila martabat bangsa dilecehkan

Bangkit itu...Mencuri

Mencuri perhatian dunia dengan prestasi

Bangkit itu...Tidak Ada

Tidak ada kata menyerah
Tidak ada kata putus asa

Bangkit itu...AKU

untuk INDONESIAKU

(Disampaikan oleh Deddy Mizwar dalam rangka memperingati 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional)

Pertama kali mendengarnya, saya langsung jatuh hati dengan puisi ini.
Sampai sekarang untuk yang kesekian kalinya, saya tetap saja merinding ketika melihat Deddy Mizwar melafalkan syair-syair itu. Mungkin cuma sekedar kata, tapi sungguh berjuta makna. Untuk Indonesia. Karena ku yakin, INDONESIA BISA!!!

Chelsea dalam Kelabu dan Arti Sepakbola

بسم الله الرحمن الرحيم
Assalamualaikum...


Kamis, 22 Mei 2008. Sungguh hari yang sangat menyakitkan bagi seluruh anggota tim Chelsea dan supporternya. Tidak hanya mereka yang hadir di Stadion Luzhniki, Moskow (Rusia) saat itu, tapi juga seluruh pendukung setia The Blues di London, Inggris, dan bahkan di seluruh dunia. Termasuk saya di Indonesia. Seakan kami tidak (dan mungkin tidak akan pernah) percaya ketika dimensi ruang dan waktu menyuarakan suratan takdir bahwa eksekusi penalti Nicolas Anelka tepat ke arah kanan gawang berhasil di tepis dengan sempurna oleh Edwin Van der Sar. Sepersekian detik setelah kejadian tersebut, Chelsea dipastikan gagal membawa pulang Trofi Liga Champion ke Stamfort Bridge untuk yang pertama kalinya sepanjang sejarah. Dan Manchester United kembali memastikan diri keluar sebagai penguasa sepakbola Eropa untuk yang ketiga kalinya.

Ya, itulah akhir dari perhelatan sepakbola antar tim paling bergengsi di daratan Eropa yang mempertemukan dua tim raksasa asal Inggris, Chelsea dan Manchester United. Drama tos-tosan atau adu penalti harus menjadi jalan terakhir ketika waktu 120 menit tidak cukup untuk menentukan siapa yang harus keluar sebagai pemegang supremasi tertinggi sepakbola Eropa yang telah diperebutkan sejak tahun 1955 ini.

Sebelumnya, 90 menit pertandingan waktu normal berjalan sangat sengit, penuh intrik, emosi, bahkan darah. Kedua tim benar-benar menyuguhkan permainan kelas dunia. MU sempat unggul terlebih dahulu melalui tandukan keras Cristiano Ronaldo ke pojok kanan bawah tiang gawang Peter Cech di menit ke 26. Di injury time babak pertama, sontekan manis Frank Lampard mengubah kedudukan menjadi 1-1. Pertandingan dilanjutkan melalui perpanjangan waktu 2 x 15 menit. Para pemain tampak amat kelelahan, sehingga emosi mereka menjadi amat labil. Pertengkaran antar pemain kerap terjadi di lapangan. Puncaknya adalah ketika wasit Lubos Michel asal Slovakia memberikan “hadiah” kartu merah kepada Didier Drogba yang mencolek pipi Namenja Vidic. Perpanjangan waktu tidak berbuah gol. Pemenang harus ditentukan lewat adu penalti.

Sebenarnya saya tidak pernah tega untuk menyaksikan sebuah pertandingan harus diselesaikan melalui adu penalti. Apalagi untuk pertandingan sepenting ini. Tapi mau bagaimana lagi. Pertandingan harus diselesaikan, dan pemenang harus ditentukan. Maka saya sebagai pendukung Chelsea pun harus siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Frase “segala kemungkinan” sepertinya terdengar tidak begitu cocok, karena hasil pertandingan hanyalah “menang” atau “kalah”.

Drama adu penalti dimulai. Sungguh, jantung saya berdegup sangat kencang. Badan saya panas dingin tak karuan. Tangan saya gemetaran dan terus bergenggaman antara kiri dan kanan, sambil sesekali saya dekatkan ke arah muka. Dua penendang pertama dari Chelsea maupun MU berhasil melesakkan bola. Penendang ketiga Cristiano Ronaldo yang merupakan spesialis bola-bola mati bagi MU gagal memasukkan bola. Saya berteriak kegirangan. Apalagi ditambah Frank Lampard yang berhasil melakukan eksekusi. Penendang keempat Chelsea maupun MU sukses menunaikan tanggung jawabnya. Begitu pula penendang kelima MU.

Kini giliran sang kapten John Terry yang menjadi eksekutor terakhir Chelsea. Jika tendangannya berhasil, maka Chelsea dipastikan keluar sebagai juara. Seluruh pemain Chelsea bergandengan erat satu sama lain. Seluruh official tim termasuk sang pelatih Avram Grant ikut berdiri. Seluruh pendukung Chelsea yang ada di dalam Stadion Luzhniki bersiap dengan apa yang akan terjadi. Saya semakin cemas dan tak karuan. John Terry keluar dari barisan pemain. Melangkah ditengah lapangan menuju titik dua belas pas. Tatapannya begitu siap, langkahnya begitu mantap. Semua orang di seluruh dunia tahu betul kapasitasnya. Yang ada dalam benak saya adalah , hanya dalam hitungan beberapa detik ke depan, jaring akan bergetar, Terry akan berteriak sekuat-kuatnya, semua pemain dan official The Blues akan berlari melakukan selebrasi kemenangan, Moskow akan bergemuruh, dan Chelsea menjadi juara. Pasti. Itu pasti. Sangat pasti. Hampir tak ada keraguan.

Terry bersiap melangkahkan kakinya. Bola pun ditendang. Dan apa yang terjadi?? Terry gagal melesakkan si kulit bundar. Tubuhnya terpeleset dan bola melayang jauh ke sisi kiri gawang. Saya lemas seketika. Begitu pula semua pemain Chelsea. Terry tampak tertunduk lesu. Semua seakan berubah 180 derajat hanya dalam hitungan detik. Saya masih tercengang dan mencoba memfokuskan pikiran terhadap apa yang baru saja terjadi. Namun saya tidak bisa. Meski kemungkinan juara untuk kedua tim masih 50-50.

Gagalnya eksekusi Terry seperti menjadi titik balik bagi saya. Saya hanya bisa melamun, hingga tidak menyadari kalau layar kaca di kos saya sudah menunjukkan skor 6-5 untuk MU. Ryan Giggs baru saja memasukkan bola. Dan terakhir Anelka gagal memasukkan bola. Saya masih tak bergeming. Gagalnya Terry seakan menjadi kepasrahan tersendiri bagi saya.

Saya hanya bisa memandang kosong ke arah layar kaca. Saya tak mengerti apa yang sedang terjadi. Tiba-tiba pikiran saya menjadi kosong. Mengapa seluruh pemain MU berlarian dan berteriak? Mengapa tiba-tiba seluruh pemain Chelsea tertunduk? Mengapa Terry menangis dengan begitu histeris? Benda apa yang sedang diangkat Ferdinand dan Ryan Giggs sambil bersuka cita. Sungguh, saya benar-benar tak paham apa yang baru saja terjadi. Tiba-tiba HP saya berbunyi,

New message - Riky - 04.36

“Asw. Ha1001x... Malam yg indah.”

Apa kata dia? Malam yang indah? Sms Riky semakin menambah kekosongan pikiran saya. Saya jadi tidak mengerti apa itu sebenarnya sepakbola? Mengapa gagalnya satu tendangan saja bisa mengubah segalanya? Mengapa banyak orang-orang di dunia harus memainkannya jika kesalahan satu detik saja bisa berbuah tangisan dan kesedihan ? Adilkah? Hanya mengapa, mengapa, dan mengapa yang ada di benak saya tentang sepakbola.

Saya balas sms dari Riky dengan menanyakan apa arti sepakbola. Lalu ia membalasnya kembali,

New message - Riky - 05.08

“Sepakbola adalah = 1% keberuntungan dan 99 % keringat. Tidak ada yang dapat menggantikan kerja keras. Keberuntungan = kesempatan + kesiapan”

Awalnya, saya sempat tak mengerti arti sms Riky. Namun, setelah sekitar setengah jam mencoba memahami dan merefleksikannya dalam pertandingan final tadi, saya sedikit mendapat pencerahan dan mengerti.

Ya, ternyata saya mulai memahami. Sepakbola atau lebih tepatnya hasil pertandingan sepakbola adalah representasi 100% dari apa yang dilakukan sebuah tim selama atau bahkan sebelum pertandingan. Sepak bola adalah akumulasi dari cucuran keringat dan kerasnya usaha yang dilakukan setiap insan dalam sebuah tim. Chelsea telah bermain dengan sangat memukau. Begitu pula MU. Kedua tim telah menunjukkan kerja keras dan determinasi yang sangat luar biasa selama 120 menit. Kedua tim telah mengeluarkan “keringat” dengan derajat yang sama selama 120 menit. Jadi dapat saya katakan 99% kekuatan mereka imbang dalam 120 menit.

Sekarang tinggal adu penalti. 1% tersisa untuk menentukan pemenang. Saya tidak mau mengatakan penalty is the matter of luck, karena di sana yang persentasenya hanya 1% terdapat kesempatan dan kesiapan. Dalam sudut pandang saya kedua tim memiliki kesempatan yang sama. Jadi persentase kesempatan menurut saya adalah 0,99%. Nah, 0,01 ini adalah kesiapan. Harus saya akui bahwa MU lebih siap dalam adu penalti. MU jauh lebih matang dan berpengalaman menghadapi partai final dibanding Chelsea. Jadi wajar jika Chelsea kalah. Perbedaan 0.01% adalah kekalahan. Dan kalah tetaplah kalah. Titik. No excuse, no apology.

Ternyata, tak ada yang perlu disesali dari kekalahan Chelsea. Mungkin butuh beberapa tahun lagi bagi Chelsea untuk menjadi juara Eropa. Butuh beberapa tahun lagi untuk berlatih dan mempersiapkan diri. Dan butuh beberapa tahun lagi untuk 100% mengerti, apa itu sepakbola.

===================================================================

Thanks buat Riky akan arti sepakbola-nya.. Semoga tahun ini bisa tembus Perguruan Tinggi Negeri dan jurusan yang diinginkan.. Amin..